Selasa, 27 Mei 2008

Live Chat Sex Is Great!

Sex is not everything... but without Sex... everything is nothing!

IRMA SUKOWATI SURADI. 0343010035. MOTIF MAHASISWA MENGGUNAKAN FASILITAS LIVE CHAT SEX PADA LAYANAN CYBERSEX DI INTERNET (STUDI DESKRIPTIF KUALITATIF TENTANG MOTIF MAHASISWA JURUSAN ILMU KOMUNIKASI UPN "VETERAN" JATIM DALAM PENGGUNAAN FASILITAS LIVE CHAT SEX DI INTERNET PADA LAYANAN CYBERSEX DI INTERNET).

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena kehidupan mahasiswa pada saat ini yang kompleks. Banyaknya mahasiswa yang mengakses layanan cybersex (seks dunia maya) di internet. Apalagi muncul cara baru mahasiswa dalam menikmati seks, yaitu melalui live chat sex. Merupakan suatu fasilitas untuk mahasiswa berhubungan seks yang aman dengan lawan jenis dan sesama jenis melalui dunia maya. Mahasiswa melakukan suatu imajinasi, yang dapat mempunyai efek yang tidak baik untuk mahasiswa tersebut, karena dapat terjadinya suatu penyimpangan seksual, apabila tidak dapat mengontrol dirinya dan menyaringnya.


Ada lima kategori motif yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu oleh Katz, Gurevitch dan Haas, teori ini merupakan perkembangan dari teori motif Blumler, dikategorisasikan sebagai cognitive nedds, affective needs, personal integrative needs, social integrative needs, dan escapist needs. Motif timbul karena adanya kebutuhan, dengan kata lain bahwa motif merupakan ciri dari kebutuhan.

Dalam penelitian ini peneliti menggali bagaimana sesungguhnya motif mahasiswa mengakses layanan cybersex terutama dalam penggunaan fasilitas live chat sex di internet. Dengan mengambil informan mahasiswa dengan batasan usia 18-23 tahun. Berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Mahasiswa tersebut adalah Mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jatim yang pernah atau bahkan sering mengakses layanan cybersex, terutama pada penggunaan fasilitas live chat sex di Internet. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, yaitu suatu pendekatan yang tidak menggunakan statistik atau angka-angka tertentu. Untuk menentukan informan kunci dalam penelitian ini menggunakan pertimbangan snowball sampling (berkembang mengikuti informasi atau data yang diperlukan). Metode pengumpulan datanya, peneliti melakukan observasi dan dept interview kepada informan mahasiswa. Peneliti mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya dan sedetail-detailnya guna mendapatkan informasi yang diharapkan.

Dari penelitian yang dilakukan menyimpulkan bahwa, Mayoritas faktor mahasiswa yang melakukan cybersex (live chat sex) tersebut, adalah (cognitive needs), yaitu kebutuhan mahasiswa terhadap pengetahuan tentang alternatif seks yang baru, yaitu seks dunia maya (live chat sex) yang tinggi, serta segala sesuatu yang menyangkut bagaimana untuk melakukan live chat sex tersebut. Mahasiswa membutuhkan atau menyukai sesuatu inovasi terbaru tentang sesuatu, yang menarik baginya. Setelah mereka mencoba mereka menjadi ketagihan dan kecanduan. Sehingga, muncul adanya motif personal integratif (personal integrative needs), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan status individual, disebabkan karena adanya hasrat akan harga diri. Hasrat dimana mahasiswa tersebut mencari ketenangan hati, dan mencari sesuatu yang membuatnya merasa percaya diri dan berarti di lingkungan sosialnya pada saat dia melakukan live chat sex. Sebagai mahasiswa yang cukup eksis dan pergaulannya juga cukup luas, mereka ternyata membutuhkan untuk berhubungan seks. Keinginan karena adanya nafsu seksual dari mahasiswa, yang salah satunya menyebabkan mahasiswa memasuki seks dunia maya tersebut, memilih melakukan berhubungan seks yang aman, daripada di dunia nyata, yang penuh dengan resiko. Namun, mahasiswa melakukan ini juga disertai oleh motif pelepasan (Escapist needs), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan upaya menghindarkan tekanan, ketegangan dan hasrat akan keanekaragaman yang di alami di waktu mahasiswa tersebut menggunakan layanan cybersex (Live Chat Sex). Live chat sex dijadikan sebagai sarana untuk melepaskan diri dari stres dan sebagai hiburan. Tidak dapat dipungkiri bahwa seks selalu tetap dibutuhkan bagi siapapun juga, termasuk mahasiswa. Live chat sex ini merupakan suatu cara berhubungan seksual yang aman, bagi para mahasiswa tersebut. Internet sebagai media komunikasi massa yang dapat banyak menyajikan berbagai layanan cybersex terutama fasilitas live chat sex yang dibutuhkan oleh mahasiswa sehingga nafsu seksual mereka dapat dilepaskan melalui dunia maya ini.


Rabu, 26 Maret 2008

Remaja Harus Melek Media

Melek Media

Apakah hak-hak remaja yang seharusnya dipahami media? Media seharusnya memberikan informasi yang benar, hak untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri, bebas dari diskriminasi, terlindung dari pelecehan, kekerasan dan eksploitasi seksual, mendapatkan pendidikan yang layak, hak untuk mengakses dan mendapatkan informasi yang seluas-luasnya tentang kesehatan serta bebas dari pornografi, narkoba dan sebagainya. Upaya perlindungan hak-hak remaja tersebut tidak akan bisa teriaksana begitu saja tanpa bantuan media massa baik cetak maupun elektronik. Sebab media terutama media visual kini adalah alat yang sangat strategis dalam menularkan gagasan-gagasan tersebut. Di banyak negara, pemerintah justru mewajibkan media untuk mengalokasikan waktu atau tempat untuk iklan layanan masyarakat yang bertujuan untuk memberikan edukasi masyarakat tentang berbagai persoalan sosial.
Di Indonesia hai tersebut belum diberlakukan, media di Indonesia justru tidak memilah-milah pesan-pesan tersebut. Masyarakat sendiri juga lupa bahwa mereka harus turut melindungi kepentingan dan hak-hak remaja dari derasnya pesan media yang masuk. Jika perlu, pemerintah harus ikut campur tangan dalam berbagai regulasi untuk mencegah efek buruk media.
Sebenarnya ada sebuah teori yakni media literacy (melek media) yang menjelaskan cara-cara agar anak-anak dan remaja mampu mengkritisi media yang dibantu oleh orang tua. Beberapa hal yang bisa diterapkan antara lain dengan membatasi jam menonton televisi, memonitor media apa saja yang dikonsumsi, mulai dari majalah, video, dan internet. Memberikan penjelasan yang mereka butuhkan, menanyakan perasaan mereka setelah menyaksikan atau membaea, membantu mereka agar mampu membedakan antara yang fiktif dan yang riil. Sehingga para remaja menjadi tahu bahwa semua itu ada konsekuensinya.
http://www.amanah.or.id/detail.php?id=743

(Artikel ini diambil dari http://ruuappri.blogsome.com/2006/06/03/remaja-melek-media-pandangan-kritis-terhadap-pengaruh-media/ , belum diubah susunan katanya)

Hal ini memang penting sekali, remaja kita perlu diadakan melek media, agar remaja sebagai generasi penerus bangsa tidak terjerumus kepada hal2 buruk, mereka harus mampu memisahkan mana yang baik dan tidak baik untuk dicerna)

Bahaya Pornografi

Ruang Lingkup Pornografi

Sebagai pembuka, saya kutip beberapa berita dan pernyataan yang berkaitan dengan bahaya pornografi.
Pornografi mendatangkan bahaya bagi umat manusia. Berikut ini adalah kutipan dari tulisan yang disebarkan oleh sebuah komunitas Kristen di Long Island, New York (www. Liccv.org). Mereka sangat prihatin dengan kultur mereka yang sangat didominasi oleh kebebasan seksual.
Riset telah menunjukkan bahwa pornografi dan pesan di dalamnya membentuk sikap dan mendorong terbentuknya perilaku yang dapat merugikan individu pengguna dan keluarga mereka. Pornografi meningkatkan dorongan perzinaan, prostitusi, dan harapan khayali yang dapat mengakibatkan perilaku promiscuous yang berbahaya (melakukan sesuatu tanpa memilih-milih mana yang baik mana yang buru).


Banyak studi menemukan bahwa pronografi sangat menimbulkan kecanduan. The National Council on Sexual Addiction Compulsivity memperkirakan bahwa 6-8 % orang Amerika kecanduan seks. Dr. Victor Cline, seorang pakar kecanduan seks, menemukan bahwa ada 4 tahap perkembangan kecanduan seksual di antara orang-orang yang mengkonsumsi pornografi:

Adiksi: tahap di mana pornografi memberikan rangsangan seksual yang sangat kuat (aphrodisiac effect), diikuti dengan pelepasan, yang paling seringnya dilakukan melalui masturbasi.

Eskalasi: adiksi dalam waktu yang lama akan membutuhkan material yang lebih eksplisit dan menyimpang untuk memenuhi kebutuhan seksual mereka.

Desensitisasi: apa yang sebelumnya dianggap kotor, mengguncang (jiwa), dan mengganggu, pada tahap ini menjadi suatu hal yang biasa dan bisa diterima.


Tindakan seksual: terjadi peningkatan kecenderungan untuk mencontoh atau berperan sesuai dengan perilaku yang dilihat dalam pornografi.


(artikel ini diambil dari http://ruuappri.blogsome.com/2006/05/18/diskusi-1-bahaya-pornografi/ , belum diubah susunan katanya)

Pornografi sangat berbahaya bagi anak kecil ataupun remaja, jadi kita harus senantiasa melindungi dan mengarahkan adek2 kita untuk tetap waspada dgn pornografi)